..

Sabtu, 14 April 2012

Aktualisasi Kurikulum di Sekolah/Madrasah dan Kepribadian Anak Didik



Secara sosiologis, pendidikan merupakan salah satu institusi pokok dalam masyarakat. Pertama, keluarga yang menjaga dan membimbing generasi muda/anak didik agar menjadi mandiri. Kedua, ekonomi yang berfungsi menghasilkan dan mendistribusikan barang-barang. Ketiga, pemerintah yang berfungsi memberi dan melindungi masyarakat. Keempat, agama yang bertugas menjawab permasalahan spiritual. Kelima, pendidik yang berfungsi mendidik masyarakat (Abdullah Idi, 2007: 151).

Dalam hal ini, pendidikan memiliki peranan strategis dalam mencerdaskan masyarakat dan memajukan peradaban suatu bangsa. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab terdepan dalam proses memajukan pendidikan, sebagai wujud dari pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Proses pembelajaran di sekolah/madrasah dalah suatu upaya aktualisasi dua tipe kurikulum: ideal curriculum dan actual curriculum. Kurikulum yang pertama, ideal curriculum, merupakan kurikulum yang dicita-citakan, dalam bentuk rencana, ideal, teks yang belum dilaksanakan. Sedangkan kurikulumyang kedua, actual curriculum, merupakan kurikulum yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Optimalisasi kualitas pembelajaran disekolah/madrasah dapat dilihat pada sejauh mana adanya kesenjangan antara kurikulum ideal dan kurikulum aktual itu.

Semakin besar adanya kesenjangan antara kedua jenis kurikulum tersebut, semakin tinggi tingkat kualitas pembelajaran. Sebaliknya, semakin rendah adanya kesenjangan antara keduanya, semakin besar keberhasilan dalam proses pembelajaran. Tetapi sebenarnya antara ideal curriculum dan actual curriculum tetap ada kesenjangan, artinya tidak mungkin dalam proses pembelajaran dapat terlakasana sepenuhnya, seprti diharapkan dalam ideal curriculum.Tetapi, yang terpenting bagi seorang guru, level kesenjangan itu sedapat mungkin ditekan.

Tingkat keberhasilan suatu pembelajaran juga ditentukan beragam komponen, seperti fasilitas, tenaga pengajar, efektivitas metode yang digunakan, iklim belajar, kompetisi guru, dan keadaan anak didik. Apabilaterjadi kelemahan pada suatu komponen, berpengaruh terhadap kinerja komponen lain dalam sistem pembelajaran yang telah ditetapkan/direncanakan. Guru potensial dan kompeten dalam melaksanakan tugas akan berarti jika didukung dengan fasilitas yang memadai. Sama halnya guru kompeten, fasilitas mendukung, dan lingkungan yang representatif juga tidak akan ada banyak bermanfaat jika anak didik anak rendah. Dalam teori proses pembelajaran, antara in-put, proses, dan out-putmestilah berjalan sejajar dalam mendukung proses pembelajaran.

Persoalan kurikulum ideal adalah persoalan substansi dari kurikulum yang perlu ditransformasikan dalam kurikulum aktual dalam proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran sedapat mungkin dapat membantu anak didik dalam beradaptasi, mengatasi beragam persoalan masyarakat di mana mereka berada, dan pemberian bekal kehidupan masa depan.

Pembenahan pendidikan nasional setidaknya perlu dilakukan terhadap beberapa kebijakan nasional harus dilakukan baik dalam arti ideal maupun aktual. Artinya, pembenahan substansi yang relevan dengan kebutuhan masyrakat Indonesia yang pluralistik dengan nilai-nilai luhur sebagai identitasnya pada abad ke-21. Kemudian, kurikulum ideal, katakanlah KTSP, sebagai produk paradigma baru pendidikan nasional perlu diikuti kemampuan memberi respons dan jawaban positif bagi kehidupan masa depan. Perbaikan pelayanan pendidikan nasional yang berkualitas bukanlah persoalan sepele. Otonomi daerah pun belum dikuti otonomi pendidkan, seprti yang diharapkan. dalam hal ini, desentralisasi pemerintah belum sepenuhnya diikuti dengan desentralisasi pendidikan. hanya sedikit jumalah daerah (propinsi/kabupaten/kota) yang memberikan anggaran pendidikan diatas 20%. Hal ini disebabkan masih sedikitnya pemerintah daerah dan aparatnya yang memiliki visi, misi, program, dan komitmen terhadap urgensi pembangunan sektor pendidikan. Perlu meningkatkan kesadaran dan komitmen dari elite terkait akan pentingnya investasi pendidikan dalam pembangunan. Ivestasi pendidikan tidak mengenal iklim dan waktu tidak menguntungkan. Investasi pendidikan tidak hanya dapat ditinjau dari profit investment semata, tetapi juga harus diliat dari sisi human investment.

Ketika kehidupan anak didik dihadapkan sejumlah dilema dan anomali, sekolah/madrasah harus meningkatkan perannya berkaitan moral dan akhlak anak didik di samping peran transfer of knowledge. Maraknya kasus perkelahian antarpelajar, terlibat narkoba, pergaulan bebas, dan tindak kriminal pada anak usia sekolah, seharusnya menuntut optimalisasi peran orang tua/keluarga, sekolah/madrasah, dan masyarakat/negara secara sinergis dan integral. Rusaknya kepribadian anak didik sesungguhnya ancaman kerusakan bagi masa depan bangsa.

Lebih dari itu, anak didik membutuhkan pengetahuan dan pengalaman tentang pol kehidupan yang mengedepankan kehidupan toleransi. Adalah suatu fakta bahwa kerusuhan sosial bernuansa sosial, etnis, dan agama di negeri ini, sesungguhnya tidak terlepas dari karakteristik kepribadian sebagian masyarakat yang tiadak toleran terhadap perbedaan. Padahal, negara besar dan masyarakat yang plural seperti Indonesia membutuhkan sikap toleransi yang tinggi dari segenap warga negara demi menjaga integrasi sosial dan bangsa. Memang, terjadinya suatu konflik dan kerusuhan sosial jarang sekali disebabkan variabel tunggal, akan tetapi ditentukan banyak variabel, seperti pengetahuan, pendidikan, pengalaman, pemahaman nilai agama, kesenjangan sosial-ekonomi terlalau tajam, dan lain-lain. Namun, toleransi warganya senantiasa perlu dipupuk dan dijaga kelestariannya. Dalam hal ini, peran dan tanggung jawab sekolah/madrasah, orang tua/kelurga, dan masyarakat tidak dapat dipisahkan.
Proses pembentukan kepribadian anak didik (cerdas, berakhlak, toleransi, arif, bijaksana, rukun, kerja keras, disiplin, jujur, menepati janji) melalui suatu proses yang panjang yang menuntut optimalisasi peran, fungsi dan teladan semua pihak. Di Indonesia, persoalan keterkaitan dengan toleransi berkaitan dengan etnis agaman lebih, dan kesenjangan sosial-ekonomi/kemiskinan menjadi perhatian penting akhir-akhir ini. Toleransi pada anak didik agaknya sulit akan muncul ketika keadaan kehidupan masyarakat didalam mayoritas keadaan miskin. Jika mengharapkan tumbuhnya sikap dan perilaku toleransi tumbuh dan berkembang pada anak didik, perahtian terhadap kesejahteraan masyarakat/penurunan angka kemiskinan mutlak dilakukan. Agaknya akan sulit tercipta perilaku dan sikap toleransi pada anak didk secra spontanitas. Sebab, hal itu berawal dari banyak variabel/faktor yang terlibat, seperti tingkat kesejahteraan, pendidikan, dan komitmen politik. Jika, sejumlah persoalan berbangsa tidak dibenahi terlebih dahulu, sikap dan perilaku toleransi akan sulit diwujudkan pada masyarakat pluralistik, bahkan sangat mungkin potensi konflik sulit di prediksi.

Kedepan, perlu upaya sadar dalam penguatan kepribadian anak didik. Sekolah/madrasah memiliki peran penting dalam menciptakan generasi muda/siswa dalam mewujudkan kepribadian anak didik yang diharapkan. Sejalan dengan hal itu, pemerintah mulai mendorong pentingnya pendidikan karakter bagi anak didik. Robert Bala mengatakan bahwa selain belajar secara formal disekolah/madrasah, belajar sesungguhnya punya sokongan publik/masyarakat sehingga tidak hanya dilaksanakan di ruang kelas, tetapi juga di semua lini kehidupan sehari-hari: dari pasar, jalan, lembaga, publik, aktivitas olahraga, hingga media massa. Apa pun yang dilakukan pihak terkait akan menjadi nilai penting sebagai bekal mereka nantinya.

Dalam menganalisis hambatan-hambatan dalam membentuk sikap dan perilaku kepribadian anak didik, setidaknya ada beberapa hal yang berkaitan.
Pertama, pendidikan informal bertalian dengan peran institusi keluarga dalam mengemban tugasnya sebagai pendidik pertama dan utama. Kebiasaan sikap dan perilaku toleransi anak didik misalnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak masing-masing saling mempengaruhi dan membutuhkan. Seorang anak yang terbiasa mendapat kasih sayang dari anaggota keluarga, saling tolong-menolong, jujur, disiplin, toleran, dan sederhana, diharapkan akan membantu mereka dalam pergaulan diluar rumah nantinya, di sekolah/madrasah dan masyarakat.Kualitas pendidkan informal di keluarga dapat membantu anak didik dalam bersikap toleransi dengan orang lain di luar rumah (sekolah/madrasah dan masyarakat).
Kedua, pendidikan formal di sekolah/madrasah. Seorang guru diharapkan dapat meneruskan nilai-nilai edukatif telah tertanam dalam keluarga dan mengembangkan basis ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan silabus kurikulum yang berlaku pada jenjang satuan pendidikan. Sekolah/madrasah terdiri dari pendidik/guru, anak didik/siswa,dan staf-administrasi saling membantu dan membutuhkan. Terlebih pentingnya kualitas guru, yang disebut pendidik profesional, sangat dituntut dalam menumbuhkan nilai-nilai edukatif dan perilaku toleransi anak didik.
Ketiga, pendidikan non-formal di masyarakat. Kontak sosial ketiga ini merupakan tempat pergaulan manusia dan merupakan lapangan pendidikan yang luas, yaitu adanya hubungan antara dua orang atau lebih tak terbatas. Hubungan sekolah/madrasah sebagai institusi sosial perlu memerhatikan relevansi kurikulum dengan kebutuhan masyarakat; metode yang digunakan harus mampu merangsang anak didik untuk mengenal kehidupan nyata di masyarakat; menumbuhkan siskap anak didik/siswa untuk belajar dan bekerja dari kehidupan sekitarnya; sekolah selalu berinteraksidengan kehidupan masyarakat sehingga kebutuhan kedua pihak akan terpenuhi; dan sekolah diharapkan dapat mengembangkan masyarakat dengan cara melakukan pembaruan tata kehidupan masyarakat.
Membentuk perilaku dan sikap toleran anak didik tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi memerlukan suatu proses waktu yang panjang. Hambatan-hambatan anak didik dalam berperilaku toleran, arif, dan rukun sesungguhnya perlu dilihat pada tiga bentuk kontak sosial pada lembaga pendidikan formal, informal, dan nonformal, yang saling berkaitan dan saling membutuhkan menuju suatu kepribadian anak didik yang diharapkan adanya kondisi kontak sosial yang positif dan saling mendukung dalam institusi pendidikan keluarga, sekolah/madrasah, dan masyarakat.

Apa pun kenyataan tentang kepribadian anak didik sebetulnya sebagai produk sekolah/madrasah atau pendidikan terkini. Ke depan, menempatkan pentingnya sektor pendidikan diposisikan sebagai prioritas investasi pembangunan nasional tidak dapat dihindari, bila bangsa ini mengharapkan sebagai suatu bangsa yang kuat ke depan. kepribadian anak didik sesungguhnya berkorelasi positif terhadap peran dan fungsi sekolah/madrasah juga peran dan fungsi keluarga dan masyarakat secara integral dan bertanggung jawab terahadap kualitas pembelajaran di sekolah/madrasah dan kualitas pendidikan nasional. Karenaya, optimalisasi peran dan fungsi sekolah/madrasah sangat dituntut dalam mencapai tujuan pembelajaran menuju terciptanya suatu kepribadian anak didik sebagai bekal untuk merespons tantangan kehidupan global di masa depan yang dinamis.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share It

:: my google+::

Template by:

Free Blog Templates